Beranda > Kesehatan > Pasien Meninggal Karena Stroke Lebih Banyak Perempuan

Pasien Meninggal Karena Stroke Lebih Banyak Perempuan


Lelaki diketahui lebih banyak terkena serangan stroke ketimbang wanita. Namun pasien perempuan ternyata lebih banyak yang meninggal jika terkena stroke.

Stroke atau gangguan peredaran darah otak bisa dialami oleh siapa saja. Namun dari catatan medis diketahui lelaki lebih berpotensi terkena stroke dibanding perempuan.

Hal tersebut disampaikan oleh guru besar ilmu kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Prof Dr OS Hartanto SpS(K), Jumat (11/12/2009).

Hartanto mengatakan, terdapat banyak faktor risiko seseorang terserang stroke. Dari banyak faktor tersebut terbagi dalam dua kelompok yaitu faktor risiko tak dapat diubah dan faktor risiko dapat diubah.

Termasuk dalam faktor risiko tak dapat diubah adalah usia, jenis kelamin, dan ras. Dijelaskan oleh Hartanto, faktor usia adalah bahwa setiap orang tanpa pandang usianya dapat terkena stroke, namun orang yang telah berusia tua lebih berisiko terkena stroke daripada yang masih muda.

Sedangkan dari jenis kelamin, lelaki lebih berisiko terserang stroke dibanding perempuan. Beban pikiran, fungsi sosial, kebiasaan hidup dan juga dampak bekerja lebih keras untuk menghidupi keluarga mempengaruhi kondisi kesehatan kaum lelaki.

“Tapi korban meninggal akibat stroke justru lebih banyak dialami perempuan. Hal ini dikarenakan kebanyakan kaum perempuan mengalami stroke pada usia yang telah tua atau lanjut. Kondisi fisik yang sudah lemah karena faktor usia ini biasanya tidak bisa tahan mengalami penderitaan akibat stroke,” paparnya.

Ras juga menjadi faktor risiko terkena stroke. Hartanto mengatakan, dari penelitian dan catatan kasus diketahui bahwa ras kulit hitam lebih berisiko terkena stroke dibanding ras kulit putih.

Sedangkan faktor risiko yang dapat diubah diantaranya adalah penderita hipertensi, merokok, diabetes, atrial fibrilasi, penyakit jantung lain, dislipidemia, inaktivitas fisik, obesitas, dan stenosis karotis asimptomatik.

Ada juga faktor risiko yang belum mantap, artinya belum bisa dipastikan dan masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Termasuk dalam kategori ini adalah sindrom metabolik, ketergantungan obat, alkohol, gangguan pernapasan saat tidur atau mendengkur, hiperhomosisteinemia, peningkatan lipoprotein, dan hiperkoagulabilitas atau tingkat penjedalan darah yang tinggi,” tutur Hartanto.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: