Beranda > Edukasi, Teknologi Informasi > Hargai Peneliti Dalam Negeri

Hargai Peneliti Dalam Negeri


Masyarakat dan media diharapkan menghargai peneliti yang tetap berkarya di Indonesia. Selama ini, penghargaan untuk mereka dinilai kurang dari penghargaan kepada peneliti yang bekerja di luar negeri.

“Padahal, bukan berarti peneliti yang tetap bekerja di dalam negeri tidak diakui di tingkat internasional. Justru mereka punya dedikasi tinggi sehingga rela bekerja dengan sarana dan kesejahteraan yang terbilang minim,” kata Wakil Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lukman Hakim di Yogyakarta, Jumat (11/12/09).
Dengan penghargaan tersebut, diharapkan timbul suasana yang mendukung penelitian. Menurut Lukman, masyarakat dan media massa Indonesia cenderung memberi penghargaan lebih pada peneliti yang bekerja di luar negeri. “Bangsa kita itu baru menghargai kalau orang itu sudah dihargai orang asing dulu,” tuturnya.

Lukman mengatakan, peneliti di Indonesia rata-rata mempunyai kemampuan sesuai standar Internasional. Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 7.900 peneliti di lembaga penelitian dan lebih kurang 80.000 peneliti di perguruan tinggi. Sebagian besar dari mereka merupakan lulusan berprestasi dari perguruan tinggi terbaik di dunia.

Menurut Lukman, penelitian Indonesia kurang berkembang karena minimnya alokasi dana. Tahun ini, jumlah dana penelitian Indonesia hanya Rp 3 triliun atau hanya sekitar 0,05 persen dari total gross domestic product (GDP) Indonesia. Padahal Unesco mensyaratkan dana penelitian untuk negara berkembang minimal satu persen dari GDP negara bersangkutan. “Sesuai aturan itu, dana penelitian di Indonesia seharusnya Rp 37 triliun,” tutur Lukman.

Dana penelitian tersebut jauh lebih rendah dari sejumlah negara lain di Asia. Korea Selatan, misalnya, tahun ini mengalokasikan lima persen dari GDP untuk bidang penelitian. Sejak akhir 1980-an, China telah mengalokasikan 20 persen dari anggaran pemerintahnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Investasi besar di bidang penelitian telah menghasilkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesar di India, Korea Selatan, dan China. Saat ini, negara-negara dengan tingkat kemiskinan tidak beda jauh dari Indonesia itu cukup disegani di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kepala Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) Hudi Hastowo menyatakan, saat ini peningkatan kesejahteraan para peneliti merupakan salah satu perhatian utama Batan. Oleh karena itu, pihaknya mendorong semua peneliti untuk mengurus kenaikan jabatan fungsional dan meraih jenjang tertinggi yaitu sebagai profesor riset. Sebagai profesor riset ada tambahan tunjangan. “Diharapkan, meningkatnya kesejahteraan mereka juga meningkatkan kinerja mereka dalam menghasilkan penelitian,” ujarnya.

Sumber : KCM
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/12/11/2017482/hargai.peneliti.dalam.negeri.

Ketrampilan dan Teknologi Informasi, Fokus Pendidikan Anak-anak Berkebutuhan Khusus

Pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus ditekankan pada penguasaan keterampilan-keterampilan dan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Upaya tersebut sebagai langkah untuk meningkatkan kompetensi anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa mandiri dengan mengembangkan potnesi yang mereka miliki.

Namun, orientasi pembelajaran anak-anak berkebutuhan khusus untuk lebih menguasi keterampilan-keterampilan dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) itu hingga saat ini masih menghadapi kendala. Selain minimnya sarana dan prasarana workshop beragam keterampilan, persoalan yang cukup serius adalah kurangnya guru-guru yang mampu mengajarkan keterampilan-keterampilan yang dikembangkan dalam pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di seluruh Indonesia.

“Pendidikan kita itu di ujungnya atau hasil lulusannya belum memberikan kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan untuk hidup atau belum bisa membuat anak mandiri. Karena itu, fokus pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus sejak tahun 2006 mulai diarahkan untuk memperkuat kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan dalam hidup. Sekitar 39 jenis ketrampilan diajarkan dalam pendidikan khusus,” kata Eko Djatmiko Sukarso, Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa Depdiknas di Jakarta, Jumat (11/12/2009).

Menururt Eko, pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus bukan hanya meliputi penyandang cacat yang mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah luar biasa. Pendidikan dengan cara yang khusus juga dibutuhkan untuk melayani anak-anak cerdas istimewa/berbakat istimewa, anak-anak tenaga kerja indonesia (TKI) di daerah perbatasan dan luar negeri, anak-anak jalanan, anak-anak di dalam lembaga tahanan masyarakat, anak-anak korban bencana alam, anak-anak yang menderita HIV/AIDS, anak-anak pelacur, anak-anak korban perdagangan orang, hingga anak-anak suku terasing.

“Bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus yang dilayani lewat pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus, perlu dilakukan terobosan-terobosan yang disesuaikan dengan kondisi mereka. Perlu fleksibel untuk melihat kebutuhan pendidikan yang sesuai dengan kondisi mereka. Dengan penguasaan keterampilan dan TIK, anak-anak tersebut diharapkan bisa lebih mandiri,” kata Eko.

Dalam peningkatan penguasaan TIK bagi anak-anak berkebutuhan khusus, kata Eko, pihaknya mendapat dukungan dari perusahaan-perusahaan TIK. Salah satunya IBM yang memiliki program memperkenalkan teknologi informasi sejak usia dini.

“Kita harus memberikan kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk menguasai TI yang terus berkembang dan dibutuhkan dalam hidup. Bukan saja untuk memudahkan cara belajar, tapi juga untuk membuat anak-abak ini mampu berkompetisi dalam dunia kerja nanti. Perusahaan-perusahan, seperti yang dilakukan IBM, mesti punya kebijakan untuk juga menerima karyawan berkebutuhan khusus,” Suryo Suwignjo, Presiden Direktur IBM Indonesia.

Menurur Suryo, dalam pengenalan TI pada anak-anak berkebutuhan khusus, tantangan terbesar adalah menyiapkan para guru. “Kami bukan hanya menyediakan alat-alat TI. Tetapi juga melatih guru dan membutakan kurikulum supaya peralatan TI yang ada di sekolah benar-benar dimanfaatkan optimal,” ujar Suryo.

Layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang kompleks dan tersebar luas, menurut Eko,belum bisa maksimal. Masih banyak anak-anak usia sekolah yang belum terlayani. Puluhan ribu anak TKI di Malaysia dan juga Arab Saudi, sebagai contoh, belum mendapat layanan khusus. Belum lagi anak-anak suku terasing yang memiliki keyakinan budaya tersendiri dalam melayani pendidikan.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: