Beranda > Kesehatan > Penyakit Kecanduan Cinta, Hanya Ingin Cinta Bukan Seks

Penyakit Kecanduan Cinta, Hanya Ingin Cinta Bukan Seks


Penyakit kecanduan seks memang ada, tapi adakah penyakit kecanduan cinta? Ternyata ada juga. Seorang wanita di Amerika mengaku punya obsesi cinta yang sangat besar pada seorang pria, tapi tidak tertarik dengan seks sama sekali. Pakar seks pun mengatakan, gejala itu adalah penyakit kecanduan cinta.

Layaknya sebuah morfin yang membuat otak kecanduan, perasaan cinta pun ternyata bisa membuat seseorang jadi pecandu cinta. Rasa candu sendiri berasal dari pengeluaran hormon dopamin, yaitu hormon yang membuat sensasi enak, nyaman, tenang dan senang.

Sama dengan penggunaan morfin, obat-obatan atau nikotin rokok yang bisa memicu pengeluaran hormon dopamin dari otak, perasaan cinta pun bisa membuat otak memerlukan hormon dopamin itu terus menerus.

Dr Drew, seorang pakar seks dan anggota dari Sex Rehab mengatakan bahwa penyakit kecanduan seks dan kecanduan cinta adalah dua penyakit yang berbeda. “Seorang pecandu cinta tidak menginginkan seks sama sekali, ia hanya ingin mencintai dan dicintai. Tapi kadar cinta itu terlalu besar, hingga akhirnya ia terobsesi dengan cinta itu,” jelas Drew seperti dikutip dari Jezebel, Rabu (25/11/2009).

Ketimbang seks, pecandu cinta lebih tertarik dengan ciuman, pelukan atau perhatian yang dianggapnya sebagai bentuk kasih sayang dan cinta. “Pecandu cinta menginginkan hal itu secara konstan dan terus menerus. Ia tidak bisa mengontrol pikirannya selain dari pikiran mencintai seseorang,” ujar Drew.

Amber (38 tahun) adalah contoh seorang pecandu cinta. Dalam acara Oprah Show, ia menceritakan bagaimana perjalanannya menjadi seorang pecandu cinta. “Saya bertemu dengan seorang pria ketika umur saya 19 tahun. Sejak itu, saya sangat terobsesi dengannya selama 12 tahun. Tapi kita tidak memiliki komitmen apa-apa,” ujar Amber.

“Saya terobsesi dengannya. Saya tidak bisa berhenti menelepon, mengirim email, SMS, MySpace untuk mengetahui keadaannya dan memberitahu bahwa saya sangat mencintainya. Yang ada di otak saya hanya pria itu, saya tidak bisa mengontrolnya. Saya ingin mencintai dan dicintainya setiap saat,” tutur Amber.

Dr Drew mengatakan bahwa kondisi yang dialami Amber sudah tergolong ke dalam penyakit kecanduan, yaitu kecanduan cinta. Wanita yang diperlakukan semena-mena atau yang mengalami trauma terhadap pria sewaktu kecilnya berisiko menjadi seorang pecandu cinta.

“Menurut teori psikologi, jika seseorang pernah punya pengalaman mengerikan, diteror atau trauma pada waktu kecil, maka ketika dewasa kelak, ia akan cenderung tertarik pada orang dengan tipe serupa yang membuatnya trauma di waktu kecilnya dulu,” jelas Drew.

Sementara itu, setelah 12 tahun terobsesi untuk mencintai seorang pria, Amber gagal mendapatkan pria itu. Terakhir, Amber terobsesi lagi pada seorang pria selama 3 tahun belakangan ini. “Tapi ketika dia pergi meninggalkan saya 2 bulan lalu, rasanya saya ingin mati saja,” ujar Amber.

“Saya tidak ingin menyakitinya. Saya juga tidak ingin bercinta dengannya. Saya hanya ingin bersamanya dan mendapatkan cinta sepanjang waktu,” ujar Amber.

  1. 14 Desember 2009 pukul 11:09

    eh, cinta ma napsu kan beda tipis😆

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: