Beranda > Edukasi > Ratusan Anak Suku Lauje Belum Nikmati Sekolah

Ratusan Anak Suku Lauje Belum Nikmati Sekolah


Ratusan anak usia sekolah dari warga Suku Lauje di beberapa desa di Kecamatan Tinombo dan Tomini, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, hingga kini tercatat belum menikmati bangku sekolah.

Berdasarkan pantauan terungkap, anak-anak usia sekolah dari Suku Lauje lebih banyak ikut orang tuanya dalam mencari nafkah. Setiap hari mereka turun dari pegunungan tempatnya bermukim, baik untuk pergi perjualan ke pasar maupun ke areal pertanian.

Engo, salah seorang warga Kecamatan Tinombo ketika ditemui mengatakan, meskipun pemerintah telah membangun sekolah di daerah pegunungan tempat Suku Lauje itu bermukim, rata-rata anak usia sekolah tidak dapat menikmati fasilitas pendidikan tersebut.

“Salah satu alasan untuk tidak sekolah yakni areal pemukiman Suku Lauje yang berada sangat jauh dari lokasi sekolah,” katanya, Selasa (22/12/2009).

Untuk sampai ke sekolah, kata dia, warga harus menempuh perjalanan satu atau dua hari dari tempat mereka tinggal di wilayah pegunungan. Kondisi wilayah yang berjauhan serta masih kurangnya sentuhan sosial yang diberikan kepada mereka membuat masyarakat Lauje masih banyak yang hidup terasing dan belum mampu bersekolah.

Engo mengatakan, anak-anak Suku Lauje kebanyakan hanya membantu orang tuanya menggarap ladang. Hal tersebut sudah menjadi tradisi yang turun-temurun dan sangat sulit dihilangkan.

“Jangankan sekolah, untuk beradaptasi dengan warga yang tinggal di kampung berlainan saja sangat sulit,” kata Engo.

Engo mengungkapkan, areal pemukiman Suku Lauje sangat berjauhan antara satu kepala keluarga dengan keluarga yang lain. Mereka hanya bertemu di pasar saat turun untuk menjual hasil ladang atau saat membeli kebutuhan hidup.

“Agar tidak terasing lagi, mereka tampaknya perlu dimukimkan pada satu wilayah, termasuk perlunya diberikan sentuhan sosial,” kata Engo.

Ram Pido, salah seorang juru bicara Suku Lauje mengatakan, pemerintah harus fokus dalam melakukan pembinaan kepada warga terasing, apalagi mata pencaharian mereka adalah berladang. “Bukan tidak mungkin kawasan hutan akan dirambah dan dijadikan areal untuk bercocok tanam bila perhatian untuk mereka belum juga dilakukan,” kata Ram.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: